Tetapi saya anggap remeh
sakit saya, saya pun tetap ber aktivitas seperti biasa, hingga pada hari jumat
30 September 2016. Saya tiba-tiba tidak sadarkan diri. Ketika saya sadar saya sudah ada di rumah sakit dan saya mengeluarkan air mata sambil merenungkan betapa sakitnya
tetapi saya ingin berjuang dan saya
tidak mau menyerah.
Tetapi, kamu tenang saja, asal kamu minum
obat demam, makan banyak dan bergizi agar meningkatkan
daya tahan tubuh, minum yang banyak untuk menetralkan suhu tubuh, dan Jus jambu biji. Hinga trombosit mu kembali normal di atas 200 baru kamu dapat keluar dari rumah sakit.
Dan saya mencoba untuk berusaha dan selalu optimis. Demi hari-hari saya yang
menyenangkan dan saya harus meng habiskan makanan yang lebih bergizi, menambah
dosis air minum hingga mual, dan meminum Jus jambu biji sekitar 4 jam sekali.
Akirnya Setelah dirawat 4 hari, muncul bintik-bintik merah di tangan serta
kaki saya.
Menurut dokter yang memeriksa saya. Ini pertanda kalau saya mau sembuh. Saya harus percaya. Saya kembali percaya bahwa perjuangan saya tidak sia-sia. Saya memutuskan untuk istirahat maksimal, dan sangat percaya
dengan obat-obatannya maupun yang
herbal dan non herbal, tidak banyak gerak, lebih banyak makan, apalagi minum jus jambu lebih banyak lagi, dan minum sari kurma.
Di hari ke 5, saya merasa sudah sembuh.
Ternyata trombosit saya naik denga
cepat. Pada sore harinya, di cek lagi dan trombosit saya makin
naik hinga normal. Akhirnya saya boleh pulang. Dan keluar dari rumah sakit.
Kata dokter setelah sembuh, saya harus tetap istirahat. Setelah sembuh, saya juga
merasa sedikit pusing, pusingnya seperti sedang bermimpi, susah fokus, ingin
marah, dan jantung berdetak lebih kencang.
Walaupun belum pulih saya ingin selalu berjuang dan tanpa kata-kata yang pisimis, saya berangkat ke
sekolah ingin mengikuti lomba ketika sampai di depan
kelas. Tanpa
sebab saya terjatuh tak berdaya,
semua teman-teman saya menolong saya, saya
di suruh istirahat. Tetapi saya tak mau menyerah begitu saja saya ingin berjuang
dengan sungguh-sungguh.
Untungnya ada teman-teman yang selalu setia yang
memberi dukungan untuk perjuangan saya, saya pun membakar semangat untuk “KitaIndonesia biasa”
